Busway
Akhirnya, kemarin malam nyobain juga naik busway
. Itu juga sebenarnya terpaksa.
. Itu juga sebenarnya terpaksa. Ceritanya semalam masih ada di daerah harmoni jam 20.00 wib. Mau pulang ke arah kampung melayu. Ya udah cobain deh naik busway. Beli karcis Rp 3500, petugasnya bilang "naik ke arah pulogadung, tapi turun di senen. Dari situ naik lagi ke arah kampung melayu".
OK kita coba. Ternyata arah pulogadung banyak peminatnya alias rame hehehehe. Setelah 15 menit menunggu, datang juga si Transjakarta. Di dalamnya walupun berhimpitan tapi enak juga ya, karena AC nya dingin. Berhubung nggak mengalami macet
sekitar 20 menit kemudian sudah sampai di senen, transit, dan 15 - 20 menit berikutnya sudah sampai di kampung melayu. Alhamdulillah nggak keringetan, nggak penat dan pusing karena polusi knalpot metromini yang biasanya harus gue alami, hehehehe.
sekitar 20 menit kemudian sudah sampai di senen, transit, dan 15 - 20 menit berikutnya sudah sampai di kampung melayu. Alhamdulillah nggak keringetan, nggak penat dan pusing karena polusi knalpot metromini yang biasanya harus gue alami, hehehehe.Sebenarnya Busway bisa menjadi salah satu solusi mengatasi kemacetan di jakarta. Namun sayang Sutiyoso tidak memaksimalkannya. Padahal kalau mau di research lebih detil ada langkah-langkah yang bisa direalisasi Pemda DKI, diantaranya:
- Batasi kepemilikan kendaraan bermotor. Jangan sampai satu individu atau keluarga memiliki lebih dari satu.
- Pertinggi pajak kepemilikan kendaraan bermotor.
- Perketat seleksi polusi untuk kendaraan bermotor. Salah satu keluarga saya sudah ada yang menjadi warga negara Jerman. Beliau mengatakan pemeriksaan layak pakai kendaraan ini wajib dilakukan per tahun. Kalau tidak lolos kendaraan yang bersangkutan tidak boleh dipakai.
- Serahkan pengawasan operasionalnya kepada KPK. Maklum lah, berbanding lurus dengan adanya regulasi baru, maka tindakan penyelewengan di kalangan birokrat negeri juga hampir pasti terjadi. Dan sampai saat ini KPK menurut gue masih dapat dipercaya.
Nah kalau empat poin diatas sudah berjalan, maka step berikutnya adalah:
- Bangun infrastruktur Busway secara total.
- Lakukan migrasi semua angkutan ke busway secara maksimal. Mulai dari PPD, metromini, mikrolet, kopaja, dan semua angkutan yang beroperasi di DKI harus di migrasi ke Busway. Lalu awak angkutannya di kemanain ? Ya di upgrade menjadi personel Busway. Beri mereka pendidikan, naikkan derajat pemikiran dan kehidupannya. Susah ah kayaknya ? Ya memang untuk itu anda dibayar menjadi Gubernur DKI. Anda digaji mahal bukan untuk tidur di benteng yang besar. Tapi untuk bekerja membuat DKI menjadi lebih baik. Biayanya gimana ? Pemda DKI punya dana yang tidak terbatas, sayang kan kalo 14 milyar rupiah cuma untuk buat air mancur bunderan HI.
- Lihat lagi kata-kata total di poin pertama. Itu berarti jalur Busway sudah meng-cover seluruh jalur di DKI Jakarta dari tengah sampai ke pinggir. Dan jelas armada Transjakarta harus ditambah lagi secara maksimal. Dan disinilah gunanya seluruh awak angkutan lain yang di migrasi ke Busway. Busway dapat beroperasi selama 24 jam non-stop. Banyaknya awak angkutan yang di migrasi sangat memungkinkan untuk dibuat sistim shift. Atau kalau tidak mau beroperasi 24 jam, sistim shift bisa dilakukan secara harian. Sehari kerja sehari libur, enak kan
. - Nah yang paling penting, gaji mereka dengan mahal. Karena mereka berada di jasa pelayanan publik yang sangat vital. Gak usah takut mikirin gajinya darimana. Selain tadi udah disebut Pemda DKI punya dana yang tidak terbatas. Ini juga akan menjadi investasi yang sukses. Karena dengan infrastruktur Busway yang ‘menggurita’ dan sistim pelayanannya yang profesional. Orang Jakarta akan serempak meninggalkan mobilnya di garasi rumah masing-masing. Satu orang rela membayar Rp 3500, kalikan aja dengan frekuensi pemakai Busway. Ambil aja angka yang menurut anda dapat mewakili, nah itu baru pendapatan dalam satu hari.
Tapi setelah gue pikir-pikir masak seeh poin-poin diatas tidak terpikirkan oleh Gubernur DKI, wakilnya, dan jajaran instansinya ? Belum lagi kalau mereka meng-hire para staf ahli. Iya kan, masak seeh nggak kepikiran ? 

Ternyata solusinya ada pada satu kalimat, yaitu kemauan!
Gubernur DKI sekarang punya nggak kemauan untuk itu ? Simpel aja kok sebenarnya. Gue kasih fakta dan data yang nyata. PKS menang di jakarta, mereka menduduki kursi terbanyak di DPRD DKI. Walaupun nggak 50% + 1 karena cuma selisih satu kursi lebih banyak dari PD. Tapi belum sampai 5 tahun, fraksi PKS telah berhasil membuat undang-undang sekolah gratis dari SD sampai SMP. Ini baru bisa disebut punya kemauan!
Gue berharap Gubernur DKI yang baru nanti akan membuat Jakarta semakin baik. Apa-apa yang sudah dibangun dan bisa dikembangkan menjadi salah satu solusi transportasi seperti Busway dapat dibuat menjadi semakin baik, kalau memang poin-poin diatas baik dan bisa diterapkan silahkan diambil Pak Gubernur!
Untuk warga Jakarta jangan pada golput yah, sayang kertas suaranya nanti dimanipulasi. Percayalah saat ini Pilkada DKI adalah salah satu jalan untuk membuat Jakarta menjadi waras dan baik. Dan percayalah orang baik untuk kita pilih menjadi Gubernur DKI itu pasti ada. Sudah 10 tahun Sutiyoso memimpin Jakarta, minusnya lebih banyak daripada positifnya. Bahkan sampai sekarang gue belum pernah mendengar kata ‘maaf’ keluar dari mulutnya ketika banjir 2007 kemarin melanda Jakarta, alih-alih meminta maaf Sutiyoso malah menyalahkan alam, dan media yang terlalu membesar-besarkan masalah ?! hmmmfff, cukup sudah pemimpin model begini. OK guys jangan salah pilih!

